Image
Image

Zulfikar Tawalla Ungkap Kendala Utama Pekerja Migran: Minimnya Keterampilan Bahasa Asing

16-Nov-2024    Daeng Mamat
facebook twitter whatsapp

BERITA45.COM, MAKASSAR - Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Zulfikar Ahmad Tawalla, S.Pd., M.I.Kom., menjadi narasumber dalam Kuliah Tamu bertajuk “Penempatan dan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia” di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Sabtu (16/11/2024).

Dalam kesempatan tersebut, Zulfikar membahas berbagai isu penting, terkait penempatan dan perlindungan pekerja migran Indonesia.


Salah satu sorotan utama dalam kuliah tamu tersebut, adalah kendala yang dihadapi oleh calon pekerja migran, terutama terkait dengan penguasaan bahasa asing. 


Zulfikar menjelaskan, bahwa minimnya keterampilan bahasa asing, khususnya yang sesuai dengan negara tujuan, menjadi kendala besar bagi pekerja migran. 


“Penguasaan bahasa menjadi faktor krusial, dalam keberhasilan penempatan pekerja migran di luar negeri,” ujar Zulfikar.


Ia mencontohkan, perawat Indonesia yang bekerja di Jerman dikenal memiliki kualitas pelayanan terbaik. 


Namun, kata Zulfikar, kendala terbesar yang dihadapi adalah penguasaan bahasa Jerman yang terbatas, sehingga jumlah perawat yang bisa dikirim ke negara tersebut pun terbatas. 


“Hal ini menunjukkan, meskipun pekerja migran kita berkualitas, tanpa kemampuan bahasa yang memadai, peluang mereka untuk bekerja di luar negeri akan terbatas,” jelas Zulfikar.


Zulfikar juga melihat hal ini sebagai peluang bagi Unismuh Makassar, untuk menyiapkan lulusannya dengan kemampuan berbahasa asing, selain keterampilan profesional yang relevan dengan bidang pekerjaan. 


“Unismuh memiliki peluang besar untuk menyiapkan alumni, yang tidak hanya kompeten dalam bidang profesionalnya, tetapi juga mahir berbahasa asing, sesuai dengan kebutuhan negara tujuan,” lanjut Zulfikar.


Dia menambahkan, pihaknya sedang berupaya mencari cara produktif bersama, agar pengiriman pekerja migran ke luar negeri benar-benar memenuhi standar yang dibutuhkan oleh negara tujuan. 


"Kerjasama antar perguruan tinggi dan pemerintah sangat dibutuhkan, dalam meningkatkan kualitas calon pekerja migran,” ujar Zulfikar. 


Hal ini diharapkan, dapat meningkatkan kualitas pekerja migran Indonesia, yang dapat bersaing di pasar global.


Zulfikar juga mengungkapkan, tingginya animo masyarakat untuk bekerja di luar negeri, tanpa disertai penguasaan bahasa maupun kompetensi profesional, dapat membuka celah lahirnya pekerja ilegal. 


"Pekerja migran yang tidak memenuhi persyaratan, terutama bahasa, berisiko menjadi pekerja ilegal. Ini tentu sangat merugikan bagi mereka dan negara," jelasnya. 


Oleh karena itu, Zulfikar menekankan pentingnya pendidikan bahasa dan kompetensi profesional, untuk mempersiapkan pekerja migran yang berkualitas.


Sebagai langkah konkret, Zulfikar mengatakan, Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, tengah memformulasikan kerjasama antar pemerintah (government to government) dengan tiga negara besar, yang menjadi tujuan utama pekerja migran Indonesia, yaitu Korea, Jepang, dan Jerman. 


"Kami juga sedang memperluas kerjasama dengan negara-negara lain, seperti Australia, Amerika Serikat, dan Polandia," tambahnya.


Sektor pekerja migran Indonesia memang memberikan kontribusi yang sangat besar, terhadap perekonomian negara. 


Zulfikar mencatatkan, pada tahun 2022, devisa yang dihasilkan oleh pekerja migran Indonesia mencapai Rp135,9 triliun. 


Pada tahun 2023, angka ini meningkat menjadi Rp227 triliun, menjadikannya penyumbang devisa terbesar kedua setelah sektor migas.


Di akhir kuliah tamu, Zulfikar menegaskan bahwa pengembangan sektor perlindungan pekerja migran, tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada peran perguruan tinggi, dalam menyiapkan generasi muda yang siap bersaing di pasar global. 


“Kami berharap kerjasama yang erat antara pemerintah dan perguruan tinggi, seperti Unismuh Makassar, dapat terus diperkuat,” ujarnya.